Life under pressure

Hari ini untuk yang ke-23 kali saya melakukan ritual puasa dengan tidak makan selama 12 jam dan hanya minum.

Setelah membaca cukup banyak buku dan mengerti banyak hal, saya merasa makin kritis bahkan sedikit rude terhadap orang-orang terutama yang kurang kompeten.

Kalau ada jawaban-jawaban yang asal, maka akan langsung saya serang dengan komentar pedas.

Ditambah dengan tekanan hidup yang meningkat, maka bertambah lah sikap rude saya yang saya rasakan.

Dalam puasa hari ini saya kembali diingatkan untuk sabar dan bersyukur dalam segala hal. Karena itulah sebagian buah-buah roh yang diajarkan kepada saya.

Buat apa saya benar tapi hubungan saya dengan orang-orang yang saya kasihi menjadi buruk?

Being “right” sangatlah penting, tapi diatas semua itu hubungan baik lebih penting lagi.

Bagaimana sikap kita terhadap orang lain dikala kita benar?

Post “Life under pressure” appeared first on krismanoppusunggu.com

 

A writer wanna be

Setelah membaca cukup banyak buku baik hard copy, ebooks dan audiobooks, saya merasa mulai naik kelas mau menulis buku.

Untuk mendukung usaha saya menulis buku, saya baru saja membeli 3 buku tentang how to write, how to become a writer dan how to publish.

Dalam salah satu buku yang saya baca, dijelaskan supaya kita menetapkan dulu berapa kata yang mau ditulis dalam 6 bulan. Misalnya 58,000 kata dalam 6 bulan (168 hari). Dari situ berarti saya harus bisa menulis sebanyak 346 kata per hari atau sekitar 2422 kata per minggu.

Dalam buku tersebut dikatakan ada 3 faktor yang mempengaruhi sukses tidaknya menjadi seorang penulis yaitu Talent, Luck, dan Discipline.

Dari ketiga hal penting tersebut, hanya satu hal yang bisa saya kontrol yaitu Discipline. Jadi saya musti focus ke hal Discipline maka kedua Talent dan Luck akan mendukung kesuskesan saya.

Semoga saya bisa menulis sebuah buku dalam 6 bulan.

Apa yang menjadi plan aktifitas kita sekarang?

Post “A writer wann be” first be appeared on krismanoppusunggu.com

 

God’s help is always on time

Setelah hampir 2 minggu periksa dan berobat ke suster, klinik, rumah sakit akhirnya luka di jari tengah Ibu saya mendapatkan kejelasan apa sebabnya dan menuju penyembuhan.

Dalam pemeriksaan disebuah rumah sakit swasta di Bekasi, Ibu say divonis harus menjalani operasi besar untuk membersihkan lukanya ( istilah kedokterannya “debrimend”).

Namum karena Ibu saya sudah berusia 75 tahun dan cukup risky kalau dianesthesi total, maka kita sekeluarga mengusahakan pengobatan secara local saja.

Kami juga minta Pdt. Sarikat Bangun untuk mendoakan supaya tangan Ibu saya tidak perlu dioperasi besar.

Hari ini, setelah segala upaya doa dan pemeriksaan tingkat lanjut di RSCM Kencana, Ibu saya tidak perlu dioperasi besar dan hanya dibersihkan lukanya secara local.

Kuasa penyembuhan Tuhan yang on time membuat semuanya berjalan dengan baik.

Thanks, Lord!

Bagaimana sikap kita ketika menghadapi vonis operasi besar terhadap Ibu kita yang sudah berumur lanjut?

Post “God’s help is always on time” first published at krismanoppusunggu.com

Collaboration in a telco war room

Hari ini, di dalam sebuah war room operator telco Biru, sekitar 27 orang terlibat dalam upaya integrasi radio eNb sharing antara operator Biru dan operator Kuning. Vendor masing-mading operator yaitu *atacom dan *okia buat operator Kuning dan *ricsson buat operator Biru beserta para PIC ari operator Biru dan Kuning.

Sungguh menarik melihat bagaimana para experts bekerja. Kelihatan cuma sedikit komunikasi yang dilakukan lintas team operator Biru dan Kuning beserta team dari vendornya. Tetapi karena masing-masing expert sudah mengerti tugas masing-masing, kolaborasi terjadi cukup progressive.

Tidak ada upaya untuk saling menyalahkan, tetapi semua team member berusaha berkolaborasi untuk satu tujuan supaya radio eNb sharing antar kedua operator Biru dan Kuning berhasil sukes.

Tetap semangat, All!!!

Bagaimana suasana war room di tempat kita bekerja?

#Diambil dari buku kehidupan

Going the extra mile

In my last article I have mentioned about the aggregation of marginal gains, how a simple improvement in every small stuff we naturally left overlooked can make enormous change.
But how exactly does it work?
Entrepreneur, weightlifter and travel photographer James Clear has set up Tiny Gains Games Challenge to build better health habits after he created new pattern of practice.
He added tiny increase of weight for his chin-up workout every week and he was surprised with the result. He could lift more weight, and in fact, ready for more, while the workouts still felt easy.
I have experienced exactly the same thing every time I pushed myself to go another meter when running.
I started running as a new habit in 2012 and at that time I could only take 300 meters in the first two weeks. I extended the limit to 500 meters on the following weeks and managed to reach 700 meters on the third month.
After a year, I accomplished 26.12K run and after three years of self-training I’m aiming for my first full-fledged marathon this month.
I’m taking the Tiny Gains Game Challenge and I hope you will, too.
This challenge is really simple. The basic idea is to start with a running distance that is easy for you and increase that distance by a very tiny amount each week so that by the end of the challenge your new “easy distance” is 250-meter farther.

The Tiny Gains Challenge starts this week. I’ll be in the running lap today to kick off the first day of the challenge, but you’re welcome to start anytime this week.
This is a personal challenge, not a competition. The goal is for everyone to make consistent progress and build better fitness habits. That said, if you interested to record your progress, you may post your exercise in the social media each week and use hashtag #tinygains to share your progress in Instagram.
Overall, the challenge will run for the next 20 weeks. When March 2016 gets here, you’re going to be 5K stronger. Let’s do this. #tinygains

Tips:

Walking is a great way to start The Tiny Gains Challenge. You should start with a distance that is easy for you and then figure out a way to measure that distance. How you measure it will be specific to your situation. Then, increase by a tiny amount each week.

For example:

· If you’re walking on a track, maybe you walk around the track one time (400m) the first week and then you walk around one time plus another quarter of a lap the second week (500m).
· If you’re walking on a trail, maybe you walk down to a big rock and back. The second week, you can walk down to the big rock, go 10 steps further, and then come back.
· If you have a Fitbit or other tracking device, maybe you walk 5,000 steps per day during the first week. The second week, you can increase that to 5,100 steps per day.
Again, the entire goal is to make a very tiny gain and keep the work easy week after week.

“You gain strength, courage, and confidence by every experience in which you really stop to look fear in the face. You are able to say to yourself, ‘I lived through this horror. I can take the next thing that comes along.”
Eleanor Roosevelt

Grandfather trust

Bagaimana sikap kita ketika boss nya-boss nya-boss kita mempercayakan kita untuk melakukan sesuatu pekerjaan?
Apakah kita akan tertekan dan protes?
Apakah kita akan complain bahwa hal itu adalah bukan job responsibilty kita?

Atau apakah kita akan mengambil sikap positif bahwa Grandfather sedang mempercayakan kita terhadap sesuatu pekerjaan yang challenging?
Apakah kita akan bertindak dan berkarya regardless bagaimana sulitnya assigment tersebut?
Apakah kit aakan bersyukur bahwa kita masih mendapat kepercayaan dari Grandfather?

Bagaimana sikap kita ketika menedapatkan assignment yang challenging?

#Dimabil dari buku kehidupan

Fasting and choose happiness

Hari ini untuk yang ke-19 kali saya melakukan ritual puasa dengan tidak makan selama 12 jam dan hanya minum.

Di bagian terakhir buku karya Karl Pillemer, PhD tentang “30 Lessons for Living” menyebutkan beberapa refrigerator list supaya kita memilih kebahagian, yaitu:
1. Time is of the essence
Hidup ini adalah pendek- karena begitu lah adanya. Point-nya adalah untuk tidak depressed karena pengetahuan ini tetapi sebaiknya kita bertindak berdasarkan fakta tersebut untuk memastikan melakukan hal-hal yang penting-penting saja mulai sekarang.
2. Happiness is a choice, not a condition
Kebahagian bukanlah kondisi yang terjadi ketika suasana lingkungan kita sempurna atau hampir seperti itu. Pada akhirnya, kita perlu membuat keputusan yang sadar untuk menjadi senang/happy dalam kondisi yang menantang atau susah pun.
3. Time spent worrying is time wasted
Berhentilah kawatir. Atau setidaknya kurangilah. Hal itu akan membuang waktu yang cukup lama bagi hidup anda yang berharga.
4. Thinks small
Ketika waktunya datang untuk melakukan yang terbaik bagi kita sendiri, pikirkanlah dari hal-hal kecil saja dulu. Biasakan kita mengupayakan simple pleasure untuk mendapatkanya sekarnag juga.
5. Have faith
Hidup yang beriman akan meningkatkan rasa well-being kita, dan menjadi bagian dari komunitas religius akan menyediakan dukungan yang unik saat krisis hidup terjadi. Tetapi apa dan bagaimana cara anda menyembah, terserah anda.

Bagaimana sikap kita dalam memilih untuk tetap bahagia?

#Diambil dari buku “30 Lessons for Living”

Fasting and I can look everyone in the eye

Hari ini untuk yang ke-18 kali saya melakukan ritual puasa dengan tidak makan selama 12 jam dan hanya minum.

Kembali dari buku karya Karl Pillemer, Phd menyebutkan beberapa refrigerator list supaya di usia tua kita mampu memandang mata teman-teman kita dengan pede, yaitu:
1. Always be honest
Hindari sikap tidak jujur, baik untuk hal kecil maupun besar. Kebanyakan orang-orang akan menyesal dikemudian hari karena mereka tidak bertindak jujur dan fair.
2. Say yes to opportunities
Ketika dihadapkan pada tantangan atau kesempatan, sering kali kita tidak akan menyesal jika kita menjawab yes dan sebaliknya akan menyesal bila menolak kesempatan tersebut.
3. Travel more
Travelling-lah ketika kita masih bisa, bahkan dengan mengorbankan hal-hal lainnya bila perlu. Banyak orang melihat kembali aktivitas travel mereka (besar maupun kecil) sebagai masa puncak dihidup mereka dan akan lebih menyesal bila tidak travelling.
4. Choose mate with extreme care
Kuncinya adalah dengan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan tentang siapa pasangan hidup kita. Dengan mengambil waktu yang lebih untuk mengenal prospektif partner kita dan untuk menentukan bagaimana level compatibilitas kita dengan si-dia.
5. Say it now
Banyak orang yang akan menunggu untuk mengatakan kata-kata sedih dengan gagal mengutarakannya sampai hai itu begitu terlambat. Jangan percaya akan “ghost whisperers” – hanya ketika hiduplah kita bisa mengutarakan perasaan yang terdalam.

Apakah kita sanggup untuk selalu jujur dan fair sampai masa tua?

#Diambil dari buku “30 Lessons for Living”

Don’t be afraid of being old

Karl Pillemer, PhD dalam bukunya yang berjudul “30 Lessons for Living” manyatakan ada beberapa refrigerator list supaya kita tidak takut menjadi tua, sebagai berikut:
1. Being old is much better than you think
Jangan menghabiskan waktu untuk kawatir menjadi tua. Sebab menjadi tua bisa menjadi waktu buat kesempatan, petualangan dan pertumbuhan. Jadikanlah hal ini menjadi tantangan untuk ditaklukkan, bukan sebagai akhir dari segalanya.
2. Act now like you will need your body for a hundred years
Berhentilah menggunakan kata-kata “Saya tidak perduli berapa lama saya akan hidup” sebaga alasan untuk kebiasan kesehatan yang buruk. Kebiasaan seperti merokok, pola makan yang buruk, dan kurangnya aktifitas tidak akan membunuh kita tapi akan memvonis kita untuk menderita penyakit kronis selama bertahun-tahun.
4. Don’t worry about dying – the experts don’t
Janganlah kita menghabisakan banyak waktu untuk kawatir tentang mortalitas kita. Apa yang menjadi rekomendasi para expert adalah supaya kita membuat perencanaan dengan matang dan mengoraganisir hal-hal dalam hidup sampai akhir hayat.
5. Stay connected
Pikirkanlah secara serius ancaman isolasi sosial dalam hidup middle age dan seterusnya, dan lakukanlah upaya dengan sadar untuk selalu terkoneksi secara sosial sejak middle age melalui kesempatan belajar dan berhubungan.
6. Plan ahead where you will live (and your parents too)
Jangan biarkan rasa takut dan prejudices menghalangi kita dan orang tua kita dari rencana untuk pindah ke lingkungan orang tua jompo. Hal tersebut bisa membuka peluang untuk hidup yang lebih baik, dibanding menjadi sesuatu hal yang menghalangi mereka.

Bagaimana sikap kita menghadapi usia tua?

#Diambil dari buku “30 Lessons for Living”

Fasting and how do you spend your time with your kids?

Hari ini untuk yang ke-18 kali saya melakukan ritual puasa dengan tidak makan selama 12 jam dan hanya minum.

Berikut pula ada beberapa refrigerator list yang perlu kita utamakan dalam hidup kita sebagai orang tua, yaitu:
1. Its all about time
Pengorbanan bila perlu, sangat dibutuhkan untuk menyediakan waktu kita secara maximum buat anak-anak. Kita beserta anak-anak perlu memiliki waktu bersama dalam kehidupan berkeluarga dan bukan hanya dalam waktu yang telah direncanakan.
2. It’s normal to have favorites, but never show it.
Terimalah bahwa kita selalu punya anak favorite, tapi tolong jangan kasi tau hal itu ke anak-anak kita.
3. Don’t hit your kids
Disiplinkanlah anak-anak dalam bentuk kasih sayang, dan rasa hormat dengan tidak melakukan hukuman fisik (walaupun bagaimana besarnya godaan untuk melakukannya secara jangka pendek)
4. Avoid rift at all costs
Lakukanlah apapun untuk menghindari akar kepahitan yang permamen bahkan jika itu membutuhkan kompromi dari sisi orang tua.
5. Take a lifelong view of relationship with children
Masa-masa sebagai orang tua akan terasa panjang ketika anak-anak sudah keluar dari rumah, jadi buatlah keputusan ketika anak-anak masih muda yang akan membuat hubungan jadi positif dalam separuh masa hidup berikut kita.

Bagaimana kita habiskan waktu bersama anak-anak kita?

#Diambil dari buku “30 Lessons for Living”