Competing on Internet Time

Semakin cepat perusahaan kita berkembang maka semakin kencang denyut ritme meeting seharusnya dilakukan.
Secara umum, jika perusahaan kita bertumbuh kurang dari 15% pertahun, maka kita dapat memperlakukan setiap tahun sebagai standpoint tahun strategic-thinking.
Jika perusahaan kita bertumbuh dari 20%-100% pertahun, maka strategic-thinking berlaku tiap quarter sebagaimana layaknya dalam setahun. Ini berarti kita harus meng-adjust strategi tiap 90 hari.
Jika perusahaan kita termasuk dalam group elite dimana pertumbuhan berlipat ganda tiap tahun maka kita akan hidup sama seperti “dog years” dimana kita memperlakukan tiap bulan sama seperti setahun.
Untuk diskusi lebih lanjut tentang style manajemen hyperpulsing kita bisa baca buku Competing on Internet Time: Lessons From Netscape and Its Battle With Microsoft karya Michael A. Cusumano dan David B. Yoffie.
Happy reading and happy holidays… 🙂

Accountability Management Systems

Pada satu titik, ketika dimana size perusahaan lebih besar dari 50 pegawai dan berkembang ke beberapa lokasi, untuk memantau seluruh prioritas yang saling tergantung, metrics, dan data-data bisa merupakan mimpi buruk dalam bentuk Excel-spreadsheet.
Dan sebagaimana layaknya perusahaan harus meng-upgrade accounting-nya, CRM dan System Operasinya, sangatlah penting perusahaan ini memiliki sebuah system yang dapat men-track dan me-manage semua priority yang berhubungan dan juga segala KPI.
Ada beberapa product Software-as-a-service yang ditawarkan untuk mengupdate priorities dan men-track KPI secara online.

Happiness

Berikut adalah 3 tips dari kebahagiaan:
1. Setiap bit dari hidup kita ini bisa kita sesuaikan. Ketika group besar kita menunjukkan perilaku ya sama dan sejenis (sebagaimana layaknya industri besar menghasilkan karya yang rata-rata saja), walaupun masing-masing kita punya kebiasaan yang unik. Dan biasanya, kebahagian kita secara jelas tergantung pada kebiasaan-kebiasaan kita tersebut.
2. Sebagai hasilnya, kebahagiaan akan muncul dalam proses penyesuaian kita tersebut. Jika kita merasa akan lebih sedikit menghadapi dan menjalani checklist yang diberikan kepada kita, besar kemungkinan kita akan lebih bahagia. Semakin jarang kita memikirkan bagaimana orang menilai kita, akan semakin besar kemungkinan kita menemukan pendekatan kebuasaan pilihan kita.
3. The less stuff we “have to do”, the happier we will be…

Feedback

Tradisi yang biasa kita lakukan adalah memberi review kinerja buat karyawan berkala setip tahun.
Orang-orang pada umumnya (termasuk kita) merasa sebuah lelucon untuk memberi feedback kepada karyawan setahun sekali.
Para orang tua juga cenderung menahan feedback mereka terhadap anak-anak setiap hari, menumpuknya sampai ke moment akhir tahunan di bulan Desember dimana ayah dan anak-anak duduk bersama dan berakhir menjadi sebuah moment yang sangat tidak menyenangkan.
Feedback yang sekali setahun kelihatan tidak cukup walaupun masih lebih baik daripada tidak pernah.
Ketidakhadiran deadline inilah yang berubah menjadi sebuah norma kebiasaan.
Jadi review tahunan bisa merupakan sebuah tripwire yang paling terpaksa untuk memastikan satu moment kritis terjadi setiap tahun.
Berapa kali dalam setahun anda memberi feedback kepada anak-anak anda?

Xmas Celebration SD Harapan Mulya 2014

Salah satu moment terbaik saya tahun ini adalah ketika bisa hadir penuh dalam acara Xmas celebration di sekolah putri saya yang pertama (usia 6 tahun) di SD Harapan Mulya Galaxi Bekasi.

Waktu adalah resource yang bisa saya berikan saat ini kepada putri saya dibanding dengan materi dan fasilitas lainnya. Saya kira hal ini adalah yang terbaik untuk perkembangan watak dan mental putri saya. Sehingga kalau putri saya akan punya keturunan kelak, dia bisa meniru apa yang saya lakukan kepadanya.

Setelah acara Xmas disekolahnya, saya juga membawa kedua anak saya (putri saya  dan putra saya yang berusia 4 tahun) menemani saya di kantor. Mereka berdua cukup menikmati acara jalan-jalan ke kantor saya di Wisma Pondok Indah I dan setelah itu kami lanjut ke Pondok Indah Mall untuk bermain.

Bagaimana anda menghabiskan resource waktu anda?

How dare you to a challenge

Hari ini saya menelpon seorang teman ex satu sekolah di SMA. Beliau menawarkan saya sebuah challenge yang cukup membuat saya nervous. Terus saya jawab, saya mau berdoa dulu minta keputusan dari Yang Maha Kuasa.

Teman saya ini menegaskan, bahwa ketika saya menelpon, beliau sedang membicarakan tentang challenge ini dan beliau selanjutnya menyatakan bahwa ini adalah challenge untuk menantang sebuah kesempatan.

Akhirnya saya mengatakan bahwa bila dia merasa saya bisa ambil challenge ini, monggo diputuskan apa yang terbaik menurutnya.

Dalam meditasi yang saya lakukan, saya membaca sebuah perikop yang menyatakan bahwa kita perlu memiliki iman yang lebih besar supaya kita dapat menghadapi challenge yang lebih besar.

Iman saya mengajarkan supaya kita mau berani lebih mengambil resiko yang berada dalam skala iman kita.

Apakah challenge ini berada dalam skala iman saya? Lets see…

Bookending

Byron Penstock, big fan dari Warren Buffett, menggunakan method yang dinamakan “bookending”.
Bookending merupakan system estimasi dengan dua scenario yang berbeda, a dire scenario (the lower bookend), ketika perusahaan sedang terpuruk dan a rosy scenario ( the upper bookend), ketika perusahaan sedang menanjak ke atas.
Sebagai contoh, ketika Penstock memformulasikan angka-angka dan memprediksi bahwa tergantung apa yang terjadi pada buisness minyak dunia, bookends buat ExxonMobil akan berada dalam range $50 per share dan $100 per share.
Jika harga saham sekarang $90, Penstock tidak akan pernah mau invest. Karena harga tersebut terlalu dekat dengan the upper bookend, yang memberikan sedikit upside dan begitu besar downside. Bahkan jika harga saham di $75 per share, bagi Penstock masih sangat risky untuk masuk invest.
Saya mencari business yang memiliki potensi luas untuk berhasil, tapi dengan harga saham yang tidak terlalu jauh dari the lower bookend.
Bagaimana dengan cara investing anda?