How We Changed Our Grocery Shopping Habit

Sejak tiga bulan lalu, kami memutuskan untuk menjual mobil BMW seri i325 kesayangan kami. Waktu itu saya sudah yakin bahwa keluarga kami bisa hidup tanpa harus memiliki mobil pribadi. Walaupun saya masih belum cukup tahu secara detail bagaimana kami dengan hidup tanpa mobil.

Tetapi sebenarnya hal itu sudah mulai terjawab sejak kami telah mulai belanja groceries via online tepatnya dengan belanja via App Happy Fresh. Karena lewat belanja dengan Happy Fresh, kami tidak perlu lagi naik mobil ke supermarket karena semua barang belanjaan kami akan diantar oleh kurir Happy Fresh yang cukup profesional, cepat, dan tangkas.

Cara belanja kami mengikuti style Happy Fresh juga turut berubah. Misalnya saya akan minta list groceries dari asisten rumah tangga kami di Sabtu pagi habis aktifitas Saturday Morning Run. Selanjutnya sewaktu cooling down habis lari, saya mencari semua barang belanjaan kami di App Happy Fresh di mobile saya dan bayar dengan kartu kredit secara cash less.

Dalam paling lama 1-2 jam barang belanjaan kami akan tiba dimana saya telah intruksikan supaya diserahkan kepada asisten rumah tangga kami tanpa ada intervensi dari saya lagi. Karena saya sudah bisa melakukan aktifitas saya lainnya seperti membaca eBook di coffee shop.

Mengingat kegemeran saya pada kopi, saya juga cukup beruntung karena kebutuhan kopi saya dipagi hari selalu terpenuhi karena telah saya beli Nescafe GOLD dari Happy Fresh dengan discount yang cukup membuat saya senang secara ekonomis.

Begitulah sedikit perubahan habit dalam habit saya dan keluarga saya dalam aktifitas belanja groceries dan aktifitas kami masing-masing yang jadi cukup efisien dan simple dimana kami jadi punya waktu lebih banyak untuk hal-hal yang lebih penting lainnya karena tugas belanja cukup kami kerjakan dalam waktu maximum 10 menit.

Many thanks, Happy Fresh!

The post “How We Changed Our Grocery Shopping Habit” appeared first on krismanoppusunggu.com

How to Quit Chain Smoking Habit in 3 Months and Run for a Marathon

Dalam beberapa waktu kedepan, setelah mengikuti Creative Live class oleh Tara Gentile, saya berencana memulai untuk menulis sebuah buku non fiction yang berjudul “How to Quit Chain Smoking Habit in 3 Months and Run for a Marathon”.

Judul ini sama dengan Skillshare class yang saya buat beberapa waktu lalu.

Semoga proses penulisan lancar dan bisa complete sesuai target.

Apakah kita sudah bisa memulai sebuah proses creative seperti menulis buku?

The post “How to Quit Chain Smoking Habit in 3 Months and Run for a Marathon” appeared first on krismanoppusunggu.com

How to Stop Procrastinating and Boost Your Willpower by Using “Temptation Bundling”

Menurut James Clear dan Freakonomics dalam blognya menyatakan tips untuk menghentikan procrastination (sifat menunda) dengan cara mentargetkan sesuatu yang cukup menarik dalam ritual habit yang bisa membuat kita menunda (procrastinating).

Katy Milkman dalam upayanya untuk tidak menunda pergi ke gym adalah dengan menargetkan dirinya akan mendengar Audiobook yang sangat disukainya (The Hunger Games) selama exercise di gym. Dengan adanya bonus akan mendengar Audiobook kegemaran maka Katy akan tetap semangat untuk pergi dan latihan di gym.

Saya sendiri dalam upaya ritual habit running akan menargetkan kepada diri saya untuk mendengar music kegemaran di iTunes (misalnya music K-POP) atau Podcast kegemaran (Tony Robbins, Joel Osteen, Anthony Metivier) atau melakukan  meditasi dengan berdoa kepada Jesus sewaktu running.

Inilah tips yang bisa kita buat supaya kita bisa tetap commit melakukan ritual habit kita.

Bagaimana cara kita meng-overcome sikap procrastinating?

The post “How to Stop Procrastinating and Boost Your Willpower by Using “Temptation Bundling”” appeared first on krismanoppusunggu.com

Multi cultural lunch meeting

Siang ini sewaktu menghadiri workshop dengan customer, saya join lunch dengan 3 orang asing yang merupakan team overseas dari perusahaan kami di Jakarta.

Satu Software Developer dari Romania, satu Solution Architect dari Australia keturunan Serbia dan satu lagi Project Manager dari Australia keturunan China.

Dari lunch meeting tersebut, sang Software Developer menceritakan career dan kisah hidupnya di Romania dimana career pertama nya setelah lulus universitas mendirikan startup company yang akhirnya dibeli oleh perusahaan besar dari Italy. Sang Project Manager dari Australia menceritakan bagaimana proses migrasi dari China ke Australia sejak SMA dan bekerja di Australia setelah lulus dari Universitas. Dan sang Solution Architect dari Australia yang dudah cukup berumur menceritakan tentang keluarganya yang sangat multi ras, dimana menantunya dari Argentina dan Inggris. Jadi keluarga mereka berkomunikasi dalam bahasa internadional, yaitu English. Walaupun beliau pingin meng-endorse bahasa Serbia sebagai mother tongue mereka.

Saya sendiri menceritakan tentang trend hidup sehat versi negara maju seperti, tidur 8 jam sehari, bangun jam 5.30am dan meditasi plus lari sedikitnya 30 menit at least 3 kali seminggu.

Begitulah kesan kami dalam lunch meeting yang multi cultural.

Apa yang kita ceritakan sewaktu lunch meeting yang multi cultural?

The post “Multi cultural lunch meeting” appeared first on krismanoppusunggu.com

What the most successful people do before breakfast

Laura Vanderkam, dalam bukunya yan berjudul “What the most successful people do before breakfast”, menyatakan:

Ada 3 hal penting yang bisa menjadi fokus area hidup kita, yaitu:

  1. Melakukan hal-hal penting buat keperluan career
  2. Melakukan hal-hal penting buat keperluan keluarga
  3. Melakukan hal-hal penting buat keperluan diri sendiri

Untuk mencapai ke-3 hal tersebut, maka kita dapat melakukan kegiatan-kegiatan berikut sebelum sarapan pagi:

  1. Bangun sekitar jam 5.30am dan melakukan meditasi dan exercise -> Ini untuk keperluan diri sendiri
  2. Membuat teh buat istri, menyiapkan anak-anak berangkat ke sekolah -> Ini untuk keperluan keluarga
  3. Setelah kita sudah memenuhi kebutuhan diri sendiri dan keluarga, maka kita akan siap untuk keperluan career seperti membaca news tentang industry bisnis kita, commuting ke kantor sambil membaca/mendengar buku dan bisa tiba pagi segera dikantor untuk men-check inbox emails sebelum rekan-rekan lain datang untuk berkolaborasi.

Apakah hal-hal pertama yang kita lakukan sebelum sarapan di pagi harinya?

The post “What the most successful do before breakfast” appeared first on krismanoppusunggu.com

Preparation for The Jakarta Marathon 2015

Hari ini sebagai bagian dari persiapan The Jakarta Marathon 2015, saya telah mengambil race pack-nya.
Sekarang masuk dalam minggu tappering dan carbo loading. Tadi pagi saya telah lari 5K sebagai latihan terkahir sebelum race pada hari Minggu, 25 Oct 2015. Dan saya mencoba carbo loading dengan makan nasi merah, kentang, gandum, dan pasta-pasta-an.
Sejak 12 minggu sebelum hari-H, saya telah mencoba mengikuti sebagian dari latihan methoda FIRST oleh Bill Pierce, Scott Murr, dan Ray Moss dalam bukunya yang berjudul “Run Less, Run Faster”.
Pada tanggal 13 Sep 2015, saya telah latihan Half Marathon selama 3 jam lebih dan pada tangal 3 Oct 2015, saya juga telah latihan 20 Miles(32K) selama 5 jam dalam panas teriknya bekasi dimana saya lari dari jam 7am sampi 12pm.
Dihari-hari lainnya, pada Selasa dan Kamis saya biasanya latihan sejauh 4K-5K dan pada hari Sabtunya 8K-12K.
Tahun lalu saya telah mencoba Full Marathon di The Jakarta Marathon 2014, namun saya DoB karena “cramp” pada Kilometer ke-24.
Pada tahun ini saya telah latihan hampir 3 tahun, semoga saya bisa finish FM di The Jakarta Marathon 2015 on time and finished strong.

God Speed!!!

#Diambi dari buku kehidupan