God’s help is always on time

Setelah hampir 2 minggu periksa dan berobat ke suster, klinik, rumah sakit akhirnya luka di jari tengah Ibu saya mendapatkan kejelasan apa sebabnya dan menuju penyembuhan.

Dalam pemeriksaan disebuah rumah sakit swasta di Bekasi, Ibu say divonis harus menjalani operasi besar untuk membersihkan lukanya ( istilah kedokterannya “debrimend”).

Namum karena Ibu saya sudah berusia 75 tahun dan cukup risky kalau dianesthesi total, maka kita sekeluarga mengusahakan pengobatan secara local saja.

Kami juga minta Pdt. Sarikat Bangun untuk mendoakan supaya tangan Ibu saya tidak perlu dioperasi besar.

Hari ini, setelah segala upaya doa dan pemeriksaan tingkat lanjut di RSCM Kencana, Ibu saya tidak perlu dioperasi besar dan hanya dibersihkan lukanya secara local.

Kuasa penyembuhan Tuhan yang on time membuat semuanya berjalan dengan baik.

Thanks, Lord!

Bagaimana sikap kita ketika menghadapi vonis operasi besar terhadap Ibu kita yang sudah berumur lanjut?

Post “God’s help is always on time” first published at krismanoppusunggu.com

Collaboration in a telco war room

Hari ini, di dalam sebuah war room operator telco Biru, sekitar 27 orang terlibat dalam upaya integrasi radio eNb sharing antara operator Biru dan operator Kuning. Vendor masing-mading operator yaitu *atacom dan *okia buat operator Kuning dan *ricsson buat operator Biru beserta para PIC ari operator Biru dan Kuning.

Sungguh menarik melihat bagaimana para experts bekerja. Kelihatan cuma sedikit komunikasi yang dilakukan lintas team operator Biru dan Kuning beserta team dari vendornya. Tetapi karena masing-masing expert sudah mengerti tugas masing-masing, kolaborasi terjadi cukup progressive.

Tidak ada upaya untuk saling menyalahkan, tetapi semua team member berusaha berkolaborasi untuk satu tujuan supaya radio eNb sharing antar kedua operator Biru dan Kuning berhasil sukes.

Tetap semangat, All!!!

Bagaimana suasana war room di tempat kita bekerja?

#Diambil dari buku kehidupan

How to manage yourself in your daily routine

Setelah pencapaian yang cukup fantastis di minggu lalu dengan pelayanan di tiga tempat di Tanah Karo, minggu ini saya merasa sedikit limbung.
Ini mungkin karena tidak aktifitas besar seperti event di minggu lalu yang akan saya kejar/tuju.
Dalam kondisi seperti sekarang ini sebaiknya saya focus ke pekerjaan sehari-hari seolah-olah hal itu adalah pekerjaan besar.
Maksudnya, saya melakukan yang terbaik dipekerjaan harian dengan tidak menyepelekannya.
Karena pasti ada hikmah dari setiap pekerjaan yang diserahkan kepada kita baik itu besar maupun kecil.
Tergantung bagaimana cara kita memandangnya.

Bagaimana cara kita memandang rutinitas harian kita?

Diambil dari buku kehidupan

Fasting and Pentecost (BC and AD)

Hari ini untuk yang ke-22 kali saya melakukan ritual puasa dengan tidak makan selama 12 jam dan hanya minum.

David Pawson, dalam bukunya yang berjudul “Unlocking The Bible”, menjelaskan tentang kejadian Pentecost sewaktu jaman bangsa Israel 50 hari setelah keluar dari Mesir (BC) dan jaman Israel 50 hari setelah Yesus bangkit dari kematian (AD).

Nabi Musa turun dari Gunung Sinai setelah 40 hari disana, dan pada saat Musa turun, bangsa Israel telah menyembah dewa Banteng berbentu tanduk dari emas. 50 hari setelah Passover (bangsa Israel keluar dari tanah Mesir), kerena menyembah dewa dari tanduk berbentu emas, Allah membunuh 3,000 orang.
10 Perjanjian Allah diberikan di Gunung Sinai 50 hari setelah domba Passover dibunuh. Domba Passover dibunuh jam 3pm dan 3 hari sejak itu bangsa Israel lepas/bebas dari perbudakan bangsa Mesir. 50 hari setelah Passover, hukum diberikan kepad bangsa Israel, hari yang menurut bangsa Jahudi sebagai Pentecost. 3,000 orang mari karena melanggar hukum (Keluaran/Exodus).
Hal ini sama 50 hari diabad berikutnya, ketika bangsa Jahudi merayakan diberikannya hukum, Allah memberikan Roh Kudus (Holy Spirit) – dan pada waktu ini 3,000 orang diselamatkan (Kisah Para Rasul/Act).

Bagaiman kita memaknai hari Pentecost?

#Diambil dari buku “Unlocking The Bible”

Fasting and Chinese characters related to Babel

Hari ini untuk yang ke-21 kali saya melakukan ritual puasa dengan tidak makan selama 12 jam dan hanya minum.

Menarik sekali, dalam bukunya yeng berjudul “Unlocking The Bible”, David Pawson menyebutkan bahwa ada catatan kaki yang menarik dalam cerita tentang Babel.
Diantara orang-orang yang terpencar ada subuah group yang mendaki gunung ke arah Timur, dan tinggal disana ketika mereka mencapai tepi laut. Orang-orang tersebut menjadi bangsa China.
Budaya China sebenarnya berlanjut secara langsung sejak itu. Mereka meninggalkan Babel sebelum alfabet “Cuneiform” menggantikan bahasa gambar dari Mesir kuno. Semua bahasa berupa bahasa gambar bermula sejak masa Babel. Bahasa yang mereka ambil di China, ditaruh dalam bentuk gambar.
Hal ajaib yang mungkin merekonstruksi cerita dari Genesis 1 sampai 11 dengan melihat symbol-symbol yang orang China gunakan menggambarkan arti yang berbeda.
Kata bahasa China untuk “create”, misalanya, terbuat dari gambar lumpur, hidup, dan seseorang yang sedang berjalan.
Kata Chinese buat ‘devil” adalah terbuat dari seorang pria, sebuah taman, dan gambar dari kata rahasia. Jadi “devil” adalah orang rahasia yang tinggal di taman.
Kata Chinese buat “tempter”, terbuat dari kata buat “devil” ditambah dengan 2 pohon dan gambar dari “cover”/”disguise”.
Kata Chinese buat “boat”, terbuat dari gambar container, mulut, dan angka 8, jadi “boat” dalam bahasa China adalah kendaraan yang berisi 8 orang, yaitu kapal Nuh (Noah’s ark).

Menarik bukan?

Bagaimana sebenarnya sejarah bahasa kita (Indonesia)?

#Diambil dari buku

Reached the 1 percent

Pada hari Minggu (25 Oct 2015), setelah persiapan dengan method FIRST selama 12 minggu saya berhasil menyelesaikan jarak 42.195K dalam race Fulll Marathon di event The Jakarta Marathon 2015.

Saya berhasil menyelasaikan race dalam waktu 7:38:53. Sudah lewat 38 menit dari cut off time ( COT). Puji Tuhan nama saya masih dalam list finishers di urutan 1394.

Saya telah mulai lari sejak July 2012 dan mulai persiapan buat Full Marathon sejak 2014, dimana pada event The Jakarta Marathon 2014, saya gagal menjadi finisher dan DOB di Km24.

Menarik nya pada race tahun ini, saya mulai recovery di Km24 setelah cidera mulai Km16. Sejak Km 16-24, saya terseok-seok. Dari Km24-37, saya mulai jalan normal. Dan sejak Km37-42.195, saya bisa lari karena merasa takut akan disweep panitia di COT 7 jam.

Dengan usaha dan faith kepada yang Maha Kuasa, saya bisa menyelesaikan FM dengan finished strong. 🙂

Ada dua pengalaman saya dalam event marathon ini dimana Allah yang saya percaya menyatakan kepada saya bahwa saya akan finished FM tahun ini. Seminggu sebelum race day, Allah yang saya percayai menunjukkan dalam mimpi bahwa saya akan bisa menyelesaikan race FM tahun ini. Dan pada saat race, saya kembali diingatkan oleh Allah yang saya percaya, lewat problem pada GPS jam saya, dengan angka kombinasi 264 yang selalu mengingatkan saya pada hadirat Tuhan.

Jadi kesimpulan race saya tahun ini di event The Jakarta Marathon 2015, kalau bukan karena kasih karunia Tuhan Yesus, saya pasti tidak dapat menyelesaikannya.

Praise the Lord.

#Diambil dari buku kehidupan

My Fitbit and I have reached 804K badge (Serengeti)

Sejak 8 Jul 2015, saya mulai memakai Fitbit Flex Black. Setelah mendapat advise dari Rohan Rajiv dalam blog nya yang berjudul “A Learning A Day”.
Menurut report summary Fitbit, saya telah berjalan atau lari sejauh 804K. Jakart 804K ini adalah jarak yang bisa ditempuh binatang Serengeti yang termasuk 7 Natural Wonders.
Jarak 804K ini hampir sama dengan jarak Jakarta – Surabaya.
Jadi dalam waktu 3 bulan, saya telah berjalan atau lari dari Jakarta ke Surabaya.
Secara rata-rata tiap bulannya saya berjalan/lari sejauh 268K, tiap minggunya sekitar 67K, dan tiap harinya sekitar 10K.

Sejauh apa jarak yang biasa kita tempuh setiap hari/minggu-nya?

#Diambil dari buku kehidupan