If We Can’t Change #Time, Why Count Days

If We Can’t #Change Time, Why Count Days?

For the Light 🕎, “whose measure is longer than the #earth🌏 and broader than the #ocean🌊,” containing the #infinite🔁 #wisdom📈 of G-d, was given to finite beings, men limited to a life-span of short duration, of “#threescore✅3️⃣ years and ten, 🔟or, if in #strength🌪, fourscore years❌4️⃣.

Can a being so limited in #time do #justice⚖️ to such an #unlimited🔁 #gift💝? Can a finite being like man have any grasp of the #infinite 🔁Light?

That is why, in preparation for receiving the Light🕎, we were #commanded 📜 to count the days in order that we be #impressed 🧘🏿‍♂️ with the significance of Time⏳.

It is thereby emphasized that although we cannot alter the #flow of time, either #stretching📉 it or retracting it, this is so only #superficially🧞‍♂️. In #reality🧜‍♂️, each #particle☄️ of time, not any long #period🍩, but even a day, gives us almost #infinite 🔁possibilities. Therefore, although #human👽 life is limited on this #earth🌏 to a certain number of years, one is not limited in one’s possibilities to use them in such a way, and to #accomplished📈✅ so much, as would take others thousands 🔟0️⃣0️⃣of years⏳ to accomplish📈✅.


#time #limited #light #man #unlimited

Digital Natives

@ The Open University dalam online class-nya:


yang berjudul “Childhood in The Digital Age” menyebutkan ‘digital native’ (atau ‘net generation’, atau ‘Google generation’, atau ‘millenials’) adalah anak-anak yang mengahiskan kebanyakan waktu mereka dengan online, atau selalu connected. Hal ini digambarkan selayaknya ‘native speakers’ yang fasih dalam bahasa digital dari komputer, video games, dan internet. (Prensky, 2005, p. 8) .

Ada perbedaan diantara para ‘digital natives’, yaitu yang pada umumnya lahir di tahun 1980-an, yang technologically adept dan merasa nyaman dalam dunia technology dengan yang lahir sebelum tahun 1980-an, yang takut dan kurang confident dalam menggunakan technology.

Sebagai justifikasi, Prensky menggambarkannya dalam teori yang dikenal secara luas yaitu teori neuroplasticity. Yang mana berarti otak kita sangatlah flexible dan akan selalu berubah sepanjang hidup kita. Koneksi neural di otak kita yang berbeda akan berubah dan berevolusi selama masa kanak-kanak sebagai response dalam menghadapi kondisi lingkungan. Disebutkan bahwa otak anak-anak jaman sekarang berkembang secara berbeda dari perkembangan otak orang dewasa, karena anak-anak tersebut dikelilingi oleh berbagai teknologi baru.

Bagaiman sikap kita dalam melihat peran teknology dalam perkembangan anak-anak kita?

The post “Digital Natives” appeared first on krismanoppusunggu.com