Respect vs closeness as a family

Saya sedang makan malam di salah satu restaurant di daerah pondok indah.
Kebetulan disamping saya ada satu keluarga berisi 3 orang ( ayah, ibu dan anak).
Sang anak memanggil ibunya mami.
Sang ayah sangat fingin dam diam saja sewaktu ibu dan sang anak berbicara. Tapi ketika mereka berbicara sang anak kelihatan seolah-olah pegawai sang ayah dan ibu karena mereka agak kaku dan sang anak sangat menghargai kedua orang tuanya layaknya seperti majikan.
Ketika berbicara, sang anak menggunakan kata “saya” instead of “aku”.
Saya sangat tidak suka men-judge keluarga ini dalam circumtances ini. Saya merasa sangat aneh.
Saya biasa sangat bebas dengan kedua orang tua saya. Bahkan sering ngelunjak. Tapi saya tetap respect full kepada kedua orang tua saya.
Bagaimana dengan anda?
Atau mungkin, menantu dengan kedua mertua?
Tough situation then…:-)

Lost aversion

Adalah kecenderungan bahwa kita merasa lebih sedih karena kehilangan dibandingkan dengan rasa senang karena mendaoatkan sesuatu. Hal ini dinamakan lost aversion.
Para peneliti telah menemukan lagi dan lagi bahwa orang merasakan bahwa nilai rasa kehilangan 2 sampai 4 kali nilai rasa ketika mendapatkan sesuatu.
Sekali lagi penelitian terhadap pelajar tentang lost aversion ini menjelaskan bahwa ketika pelajar ditanya mau bayar berapa untuk sebua mug, mereka menyatakan sekitar 50,000 rupiah secara rata-rata. Tetapi kehutan muncul dari para pelajar tersebut ketika ditanya berapa mereka mau jual mug nya. Secara rata-rata mereka tidak akan mau melepas mug tersebut dibawah harga 200,000 rupiah.
Jika lost averdion bisa mempengaruhi secara cepat terhadap objek yang biasa saja, aeperti mug kopi, coba kita pikirkan bagaimana konsekuensinya untuk keputusan yang lebih penting, seperti letika seseorang menghayalkan untuk melepaskan senioritasnya di satu bidang misalnya telco untuk mencoba pekerjaan di bidang lain misalnya fibancial.
Bagaimana dengan anda?

What is ooch and why?

1. Ooching = melakukan experiment kecil untuk membuktikan teori kita.
2. Ooching sangat berguna karena kita buruk dalam memprediksi sesuatu di masa depan
3. Entrepreneur ooch secara alami. Daripada membuat forecast bisnis, mereka go show dan mencoba lansung.
4. Sebaliknya ooching tidak baik untuk situasi yang membutuhkan komitmen
5. Kesalahan umum dalam hiring: kita mencoba memprediksi kesuksesan dalam interviews. Sebaiknya kita ooch dulu.
6. Kenapa kita harus memprediksi kalau kita bisa tau?

Ooch

Jika kita bisa ooch di dalam dunia kerja, maka kita juga bisa ooch di rumah.
Gabe Gabrielson berpikir begitu. Seorang broker real estate dan ayah yang tinggal di San Jose, Gabrielson punya seorang anak berusia 9 tahun yang bernama Colin. Layaknya seperti anak seusianya, Colin sering tidak sepaham dengan peraturan orang tuanya. Pada musim semi 2011, sebagai contoh, Colin protest terhadap peraturan Gabe yang mengharuskan dia sudah berpakaian seragam sekolah lengkap sebelum turun sarapan. Sebenarnya Gabe tidak terlalu perduli apa yang dipakai Colin pada waktu di meja sarapan, tapi ia khawatir kalau Colin belum pakai seragam dulu, kemungkinan akan terlambat ke sekolah. Tapi Colin lebih nyaman dengan piyamanya.
Setelah melaui perdebatan panjang yang membuat keduanya frustasi, Gabe memutuskan untuk merubah strategi. Dia mengatakan kepada Colin untuk mencoba mengikuti caranya dalam tiga hari berturut-turut. Tetapi jika Colin terlambat ke sekolah, maka ia akan kembali mengikuti cara Gabe.
Colin yang merasa takjub dengan response ayahnya, memenangkan test percobaan tersebut. Dia pakai piyama sewaktu sarapan dan tetap tidak terlambat ke sekolah. Sebagai hasilnya adalah pola baru terbentuk dan mereka berdua sama-sama senang dengan hasilnya. Lebih sedikit perdebatan buat Gabe dan rasa sukses dalam protest buat Colin.
Bagaimana anda dengan anak anda?

Lead by example

Core Values adalah rules dan boundaries yang mendefenisikan kultur perusahaan beserta personality-nya yang menyediakan sebuah test “Boleh/Tidak boleh” untuk semua perilaku dan keputusan oleh semua pegawai dalam perusahaan.
Sangat penting bila top management memimpin dengan memberi contoh (lead by example), untuk memastikan perilaku dan keputusan mereka sejalan dengan Values perusahaan.

Values dan boundaries yang sama juga penting dan bisa paralel dilakukan dalam keluarga. Kuncinya dengan memiliki satu set peraturan, anda sebagai kepala keluarga melakukan peraturan tersebut berulang-ulang beserta harapan bahwa values keluarga tersebut , sejalan dengan waktu bisa meresap dalam habit anak-anak kita.

Bagaimana dengan perusahaan dan anak anda?

The Core

Atlit yang sukses sangat membutuhkan core yang kuat – core atau bagian tengah tubuh untuk menyediakan keseluruhan stabilitas, power, dan kontrol.

Hal yang sama berlaku untuk perusahaan yang sedang bertumbuh. Tanpa core yang kuat, organisasi akan mengalami resiko ketidakstabilan dari tantangan kultur, kehilangan fokus, disengagement, dan kelemahan hati dalam bertumbuh kembang (scales up).
Bagaimana dengan anda dan perusahaan anda?

Onboarding – Getting the First Impression Right

Salah satu kesempatan terbesar untuk menumbuhkan dan men-sinergikan team kita adalah ketika mereka mulai pertama start bekerja.
Minggu pertama dalam pekerjaan menunjukkan kesempatan unik untuk memulai koneksi dan mulai melebur dengan DNA perusahaan dengan orang baru.
Walaupun begitu, sedikit perusahaan yang memperhatikan manfaat dari hal ini.
Sebaliknya, hari pertama lebih dirasakan seperti waterboarding daripada onboarding: tidak ada desk, tidak ada notebook, tidak ada telepon, boss baru sedang travelling, dan assignment pertama adalah dengan men-shadowing kolega yang tidak antusias selama dua minggu.
Sales coach terkenal, Jack Daly menyarankan, “Kenapa tidak kita rayakan sebuah pesta ketika pegawai baru mulai hari pertama bekerja dibanding ketika mereka resigned?”
Bagaimana di kantor anda?