Conventional measure of IQ aren’t reliable predictors of success

Menurut David Brooks, dalam bukunya yang berjudul “The Social Animal”, masyarakat kita sangat menghargai kepintaran/intelligence. Dan hampir semua dari kita berfikir bahwa menjadi orang yang pintar akan memiliki pengaruh yang besar dalam keidupan yang sukses dimasa mendatang. Dan rata-rata, orang dengan IQ yang tinggi, akan memiliki nilai bagus di sekolah dan lingkungan seperti itu. Tetapi apakah kemampuan otak yang exceptional juga akan mempengaruhi pencapaian exceptional dibidang yang lain?

Nah, hal pertama yang bisa kita mengerti adalah dengan memiliki IQ yang tinggi tidak berarti kita akan memiliki hidup pribadi yang sukses dan bahagia. Karena secara jelas bahwa ketika berhubungan dengan hubungan manusia, kemampuan lainnya, seperti empati, willpower, kesetujuan yaitu truf kecerdasan abstrak.

Selanjutnya, ketika kita mengontrol faktor lain, orang dengan kecerdasan tinggi tidaklah lebih baik dalam hidup berkeluarga atau berhubungan dengan orang lain. Mereka juga bukan orang tua yang superior.

Kenyataannya, menurut Cambridge Handbook of Intelligence, peneliti menemukan bahwa kemampuan IQ mempengaruhi kesuksesan hidup cuma sampai sekitar 20%.

Walaupun sebenarnya rate seperti itu susah untuk diperhitungkan, sangatlah jelas bahwa kepintaran tidaklah perlu untuk pekerjaan yang lebih superior dan kecukupan material. Sebuah study menunjukkan hanya 4% dari variance job performance yang bisa diprediksi oleh IQ.

Bersamaan dengan hal tersebut, walaupun beberapa profesi (seperti dalam bidang akademi), memiliki IQ diatas 120 adalah kelebihan, di atas batas tersebut, penambahan point IQ tidaklah berarti sukses atau kemampuan yang lebih besar. Dengan kata lain, ahli kimia dengan IQ 140 tidaklah berkarya lebih baik dari koleganya yang memiliki IQ 120.

Peneletian lainnya yang berpengaruh dilanjutkan dengan perkembangan karir dari sebuah group murid-murid yang pintar, yang telah ditest berda di dalam level paling atas dalam IQ dalam group di usia mereka. Dan ketika anak-anak muda tersebut berkarya dengan baik dalam hidup mereka, menjadi pengacara, arsitek bahkan eksekutif, tidak ada dari mereka yang memenangkan award yang berpengaruh (seperti nobel) atau menjadi penemu sains yang pioneer.

Tetapi dilain pihak, dua anak yang dikeluarkan dari sekolahnya karena IQ mereka tidak cukup yaitu, William Shockley dan Luis Alvarez, menjadi saintis yang sukses dengan berakhir memenangkan hadiah Nobel.

Apakah kita terlalu mengagung-agungkan IQ yangt tinggi?

#Diambil dari buku The Social Animal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s