Fasting and never eat alone

Hari ini kembali saya melakukan puasa ke-2 setelah Lebaran yaitu dengan tidak makan selama 12 jam dan hanya minum. Phisically, hari ini saya merasa cukup lelah setelah reuni akbar SMA saya weekend lalu, mentally saya juga merasa challenged akan kejadian-kejadian selama weekend lalu.
Waktu lunch makan siang saya mendapat undangan dari seorang best friend untuk lunch bareng. Walaupun saya dalam puasa saya mengiyakan untuk menemani lunch bareng dengan seorang best friend dan ternyata juga dengan seorang dengan best friend lainnya.
Baru hari Jumat lalu saya memikirkan sekali-sekali to never eat alone, setelah komentar dari seorang teman saya di kebaktian Jumat-an kantor.
Diskusi kami siang ini cukup intense dimulai dari sharing saya tentan hikmah berpuasa dan karunia Tuhan, politics, telco (operator dan vendor), religion, etc.
Saya cukup merasa puas dan senang bisa menemani kedua teman baik saya dimana kita bisa sharing saling mengisi akan kejadian-kejadia di kantor, keluarga, DKI Jakarta, RI, dan bahkan religion dan rohani.
Saya jadi disadarkan lagi bahwa berkala untuk tidak lunch alone sangat baik terutama buat diri saya sendiri karena wawasan saya jadi cukup bertambah dengan komentar dan cerita kedua teman baik saya yang sangat bermutu dan inspiring.

Thanks for the lunch break my best friends. See you in the next occasions… 🙂

Bagaimana frekuensi kita makan dengan teman-teman baik kita?

#Diambil dari buku kehidupan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s